Senin, 17 Mei 2010

Menghindari Murka Alam

Tanda-tanda musim penghujan kini sudah demikian sudah terasa. Tentu itu pautu disyukuri. Sebab, sebelumnya smepat muncul prediksi bahwa akhir tahun ini hujan akan belum mengguyur bumi Indonesia. Kekerongan (El Nino) pun sempat dikhawatirkan melanda sejumlah kawasan di tanah air.
Kekurangan air bersih memang sempat melanda sejumlah daerah. Bahkan sekarang pun masih ada yang kesulitan air. Namun, dengan turunnya hujan saat ini, bencana kekeringan tentu segera berakhir. Setidaknya, tidak akan menjangkau wilayah yang lebih luas lagi.
Itulah kearifan alam. Musim penghujan merupakan siklus alam. Air yang saat kemarau tersedot dari bumi dan kemudian mengalir ke laut, selama musim penghujan ini, akan kembali “naik” ke daratan untuk membasahi bumi. Itu merupakan kuasa dan keadilan Tuhan untuk memelihara keseimbangan kehidupan manusia manusia dan makhluk hidup lainnya.
Sayangnya, kali ini kedatangan musim penghujan mendatangkan bencana bagi manusia. Seperti pada saat musim penghujan tahun-tahun sebelumnya, saat ini serentetan musibah juga terjadi. Yang terbaru sekeluarga di desa Geger, Sendang, Tulung Agung, Jatim, tertimbun tanah longsor. Puluhan rumah di kecamatan Bruno, Purworejo, Jateng, juga tertimbun tanah longsor.
Kalau terus ditelusuri, tentu musibah pada awal musim penghujan ini lebih banyak dari itu. Beberapa daerah telah disambangi banjir. Angin puting beliung juga telah memporak-porandakan sejumlah bangunan. Sebagai bangsa yang percaya kepada Tuhan, tentu kita patut meyakini bahwa semua musibah tersebut terjadi karena kehendak-Nya. Namun terlepas dari itu ada beberapa factor lain yang begitu nyata yang memicu ketentuan Tuhan tersebut.
Pada umumnya tanah longsor itu terjadi karena lereng yang semula dipenuhi pepohonan kini banyak yang gundul. Demikian pula dengan banjir. Jumlah hutan yang sebelumnya menjadi resapan airketika musim penghujan kini semakin sedikit.
Jika melihat fakta tersebut, tentu introspeksi atau mawas diri merupakan langkah langkah terbaik yang harus kita lakukan. Tuhan mungkin akan “menjatuhkan ketentuan atau vonis lain” jika kita mengikuti sunah-Nya dengan baik. Hutan yang memiliki manfaat yang besaryang seharusnya tidak kita dzalimi. Eksploitasi terhadap alam dibatasi sesuai kadar kebutuhan yang diperlukan, tidak membabi buta.
Keserakahan dalam mengumpulkan harta juga tidak terus diumbar. Begitu gelombang laut tidak bersahabat, kapal jangan dipaksakan berangkat. Kapal yang hanya mengangkut 250 orang, misalnya, jangan dipaksa memuat 300 orang. Kondisi kapal yang tidak prima harus diservis dahulu hingga pulih kembali. Dan seterusnya. . .dan seterusnya. . .
Alam memang tersedia untuh manusia. Namun, alam bias memperlihatkan murkanya bila diperlakukan tidak semestinya. Karena itu, marilah kita cintai diri kita dan kehidupan ini.

0 komentar:

Posting Komentar