2. Epistemlogi, berkaitan .Dengan metode untuk mendapatkan pengetahuan dan macam pengetahuan yang dapat diperoleh. Ilmu pengetahuan yang mencakup sumber-sumber, otoritas,prinsip, Keterbatasan, dan validitas pengetahuan dikaji secara komprehensif. Dalam pendidikan jasmani, epistemolagi akan mencari kebeneran tentang peran aktivitas fisik dan pengaruhnya terhadap perkembangan fisik, mental, emosional, dan sosial.
3.Aksiologi, berupaya menentukan untuk kegunaan apakah kebenaran dicari.Ia mempertanyakan: bagaimanakah menentukan apakah sesuatu memiliki nilai, dan kriteria apakah yang digunakan sebagai dasar penilaiannya? Aksiologi yang mengkaji tujuan dan nilai dari masyarakat sangat penting dalam pendidikan jasmani, karena tujuan dan nilai yang terjadi di masyarakat akan menjadi basis kurikulum yang digunakan di sekolah. Pertanyaan lebih lanjut, bagaimanakah nilah-nilai dalam masyarakat tersebut tercakup dalam program pendidikan jasmani?
4. Etika, membantu untuk mendefinisikan karakter moral dan menyediakan kode etik tingkah laku bagi seseorang.Etika mencoba menjawab pertanyaan: apakah standar tertinggi tingkah laku yang harus dicapai? Menumbuhkan budi perkerti sesuai standar tingkah laku merupakan fungsi pendidikan jasmani bagaimanakah permainan dan pertandingan olahraga dapat digunakan untuk belajar perilaku yang dapat diterima? Apakah pendidikan watak dapat dimungkinkan melalui penjas?
5. Logika, berupaya menyediakan metode hidup dan berpikir secara sehat dan inteligen bagi manusia.
6. Estetika adalah pengkajian dan penentuan kriteria tentang keindahan alam dan dunia seni, termasuk tari, drama, patung, lukis, musik dan sastra.
.
.Filsafat pendidikan jasmani mempunyai dua fungsi yaitu, sintesis dan analitis. Filsafat dari fungsi sintesis, yaitu untuk menyusun hipotesis yang dapat digunakan sebagai alat untuk mengenali hakikat individu dengan pengalamannya, dan filsafat dalam fungsi analitis, berfungsi untuk menentukan konsep-konsep kunci dalam bidang pendidikan jasmani, dan sekaligus mempelajari metode penelitian dalam bidang penjas.
.
.Nilai-nilai sosial penjas dapat dilihat dari peranannya sebagai wahana untuk mendidik anak dan masyarakat untuk mejaga kesehatan. Dengan berolahraga dalam kdrangka penjas diajarkan nilai kerjasama, solidaritas, saling menghargai, sportivitas serta membina fisik, mental, emosi, dan sosial pada setiap individu ke arah yang positif. Nilai-nilai sosial dapat di tanamkan melalui penjas dalam setiap kegiatan olahraga. Olahraga ini tidak hanya terbatas dalam olahraga prestasi atupun pendidikan tetapi juga termasuk di dalamnya adalah olahraga rekreasi.
.
.Pendidikan jasmani adalah proses pendidikan yang melibatkan interaksi antara anak didik dengan lingkungannya yang dikelola melalui aktivitas jasmani untuk meningkatkan keterampilan motorik dan nilai-nilai fungsional yang mencakup aspek kognitif, afektif, serta nilai-nilai sosial seperti saling menghargai, kerjasama, berkompetisi dengan sehat, tidak kenal lelah, pantang menyerah. Melalui pemahaman filsafat penjas seseorang akan menentukan pikiran dan mengarahkan tindakan dalam upaya mencapai tujuan penjas.
.
Pendidikan jasmani tidak dapat terpisah dari tujuan pendidikan pada umumnya dan selalu menjaga keseimbangan antara pengembangan jasmani dan rohani. Tujuan pendidikan jasmani adalah pengembangan optimal sesuai dengan kemampuan, minat dan kebutuhan yang melakukan kegiatan dan arahnya kepada perkembangan aspek-aspek fisik, mental dan sosial pada setiap individu.
.
.Dalam UU RI Nomor 2 tahun 1989 tentang sistem pendidikan nasional dalam Bab II pasal 4 di sebutkan bahwa : Pendidikan Nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan YME dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.
.
.Dr. Delbert Oberteuffer dari Ohio State University (dalam cholik dan Lutan, 1997) memperkenalkan prinsip penjas.
1. Pelaksanaan penjas selalu mengakui pengetahuan dan membuktikan fakta-fakta tentang organisme manusia.
2. Dalam semua penjas ada satu sel tujuan, satu dasar penilaian, dan satu kriteria untuk mengukur manfaat pelaksanaan, bagi kebaikan individual.
3. Dalam penjas terdapat potensi besar untuk belajar menanamkan pantulan pikiran dan kecerdikan memilih.
4.Bahwa dalam mengajar penilaian pada bidang moral-etik, harus direcanakan dan yang mempunyai kepastian jelas bagi keterampilan tersebut.
5. Penjas banyak memberikan ilmu pengetahuan sosial yang hasilnya dapat diukur dalam hubungan dengan tingkah laku kelompok.
6. Bahwa kegiatan dan metode untuk mencapai tujuan-tujuan harus memancarkan kesadaran lebih mementingkan lahiriah, lebih disenangi dari pada bakat individual yang mementingkan diri sendiri.
7.Penjas, jauh dari unsur mengasingkan dan memisahkan diri.
8. Bahwa penjas sebagai profesi berdiri kuat di atas kaki sendiri berdasarkan ilmu pengetahuan, kebudayaan bangsa dan tidak berkewajiban terhadap profesi lain, tetapi siap bekerja sama dengan profesi lain untuk kebaikan manusia.
9. Bahwa dalam penjas yang terutama diinginkan adalah kualitas kepemimpinan yang tinggi seperti halnya pada profesi yang lain.
.
.D. Nilai-nilai dalam penjas
keunggulan lain dari penjas menurut Dr. David K. Brace (dalam Cholik dan Lutan, 1997) adalah seperti nilai-nilai yang tertera di bawah ini :
1. Pengetahuan tentang ketangkasan dan kete
Minggu, 11 Maret 2012
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar